Latest News


More

Posted on : Sabtu, 26 Januari 2013 [0] comments Label:

DASAR BOCAH !!!

by : Unknown
bocah itu merenung sesaat setelah Indung hati dibuatnya menangis.. sekilas terkesan kedustaan tatkala melihat apa yang telah ia perbuat, tapi hanya Tuhanlah yang tahu apa yang ia fikirkan... sering terdengar ratapan dan sumpah serapah yang keluar dari mulut sang Bunda, buah dari seringnya etika buruk dari sang bocah...
Banyak yang menuding Sang Bocah anak durhaka yang tak tahu diri, bisanya hanya membuat orang tuanya menangis.. tak pernah memikirkan kebahagiaan Ayah-Bundanya, tapi hanya Tuhanlah yang tahu kebahagiaan seperti apa yang ia rencanakan u/ orang tuanya... Bocah-bocah itu menggantikan Aroma kasih sayang yang mereka harapkan dengan sekaleng perekat..Bocah-bocah itu menjadikan jalanan sebagai rumahnya karena dijalanan mereka lebih merasakan kebahagiaan dan kebebasan... "arahkan dan dampingi mereka menuju Impiannya sesuai dengan potensi yang mereka miliki, bukannya memaksa mereka u/ menjadi seperti yang kau inginkan" jangan jadikan mereka tumbal atas tak tercapainya impian2mu

Posted on : [0] comments Label:

Kendali Hidup Ada di TanganMu

by : Unknown
Banyak yang mengeluhkan hidupnya,
merasa Dialah orang yang paling menderita..
Tahukah Anda !!
bahwa sesungguhnya andalah orang yang paling bahagia,, seandainya mau berfikir....

kenapa harus mengikuti kata mereka??
hidupMu kau yang jalani.
mereka hanyalah figuran yang menjadi faktor keberhasilan atau kemerosatanMu..

berhentilah menyalahkan,
ketika bercermin, bukan mereka yang tampak di kaca.. melainkan Anda.
(Inspirator Jalanan)
Posted on : Jumat, 25 Januari 2013 [0] comments Label:

Nama a/ Do'a

by : Unknown

Bismillahirrahmaanirrahiim..


Nama adalah do’a, nasehat itu tak asing terdengar di telinga.
terlintas bayang masa lalu, berbagai julukan ataupun panggilan pernah menghinggap pada diri,
“Chondel,  Amat, Ahmad, Tokgeng, Tengguang, Cingeng, Tokek, Mat-Codet, Mat song, Mat Aji, Keker (Kecik-Keras), Ade, Ujux”.  Sekarang julukan itu tinggallah kenangan, sosok ini telah berubah menjadi Imam bagi keluarga kecil nan sederhana yang baru dibina.

Benarlah adanya, panggilan ataupun julukan-julukan tersebut hanyalah ungkapan emosi (senang, benci, kagum, kasih-sayang, dsb), namun tak dipungkiri, nama tersebut menjadi salah satu faktor perubahan sikap dan gambaran dalam menjalani hidup.

Contoh nyata efek dari sapaan, julukan atau panggilan tersebut :
“AMAT  artinya MATI, maka saat menyandang nama tersebut, hati terasa mati, gelap akan kebenaran, membabi buta dalam kekalutan dan menikmati kelalaian, sehingga 2007 berganti  menjadi FAHMI yang artinya FAHAM, mengerti dan cerdas.
Dan kebenaranpun terbukti ditandai dengan hijrahnya sosok
de’ anarchis  to  de’ Arquitectura

Dahulu sapaan ADE’ sangat disenangi, gambaran kasih-sayang dan perhatian dari sosok kakak. Namun, bergulirnya waktu, sapaan itu terasa meremehkan dan membuat semakin jauh dari kedewasaan.

Dahulu sapaan ABANG kurang dinikmati, terkesan sombong dan egois. Namun saat ini, sapaan itu menjadi motivasi untuk lebih baik, menjadi teladan bagi mereka yang merindukan perubahan.

Itulah Nama, walaupun hanya sekedar sapaan dan ucapan lisan, tapi nanti kita akan dibangkitkan sesuai dengan Nama itu sendiri (Inspirasi Sabda Rasul)

“….sapalah saudaramu dengan panggilan yang ia sukai…
…kita tak pernah tau, sapaan yang mana yang membuatnya sakit dan teraniaya.
Namun kita ketahui, do’a orang yang teraniaya  tak berHijab dengan-Nya…”

 Mari berbenah dengan tidak menyepelekan hal yang kecil dan Tidak merumitkan Hal Besar.
Easy going, but keep ISTIQOMAH
(Sang Insan Perubahan)


regenerasi
Posted on : Rabu, 23 Januari 2013 [0] comments Label:

RANUM & KARBITAN

by : Unknown

Siapa yang tidak kenal Albert Einstein, lebih umum dikenal sebagai fisikawan, penemu (bom) atom. Bom yang dunia tahu, dipergunakan Amerika pada perang dunia ke-2 menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki, dua kota di Jepang. Bahkan, rekan-rekan yang berkecimpung di dalam dunia jurnalistik yang menjadikan jurnalisme sebagai media informatif bagi masyarakat Indonesia yang pluralis ,-

tentu pula mengenal Majalah The New Yorker bahkan pernah hanya menerbitkan laporan John Hersey, mempublikasikan karyanya setahun setelah bom nuklir dijatuhkan berjudul “Hiroshima” dalam satu edisi majalah. Hersey menceritakan dahsyatnya bom itu. Ada kulit terkelupas, ada desas-desus soal bom rahasia, ada kematian yang menyeramkan, ada perasaan dendam, ada perasaan rendah diri. Semua campur aduk ketika Hersey merekamnya dan menjadikannya salah satu artikel termahsyur dalam sejarah jurnalisme Amerika. Konon fisikawan nuklir Albert Eistein tidak bisa mendapatkan edisi The New Yorker pada Agustus 1946 tersebut. Einstein membaca laporan itu karena ia berlangganan. Tapi Eistein ingin membeli enam buah lagi buat teman-temannya. Tapi majalah itu laku habis. Einstein kehabisan. Sederhana saja. Einstein menemukan teori baru. Hersey juga menemukan sesuatu yang baru. Hersey menemukan sisi bengis dari bom nuklir! (Andreas Harsono, pengantar diskusi jurnalisme sastrawi, September 2000)
Perbandingan yang relefan berdasarkan realita. Bukan pragmatis, “Kita mana tahu nasib seseorang” disebabkan kehamilan ketika sang anak sedang berstatus pelajar SMA. Dirasa sebagai penajam analisa perbandingan ada baiknya menggunakan konteks sama,-entahkah antara minyak sayur dengan minyak kelapa ataukah kejadian serupa, agar tidak mengalor-ngidul permasalahan sehingga menimbulkan lelah dan samar-samar persoalan yang ujung-ujungnya timbul kesimpulan yang menjadi solusi, “Sudahlah, pekerjaan lain masih banyak” dan membiarkan persoalan yang kerap terjadi seperti ini mengambang- berjalan lancar bersolek menjadi noktah anomali yang mulai lazim.

Memang kadangkala ketakutan timbul dari dalam jiwa pendidik yang seringkali muncul lebih banyak frekuensinya dalam keseharian teknis dia beraktifitas. Disinilah letak kekalahan disebabkan awal yang keliru, awal yang semakin tidak jelas juntrungnya akan seperti apa. Setiap menghadapi Ujian Nasional, maka setiap kali pula harus berjibaku dengan tugas dobel merangkap siswa, takut-takut tidak mencapai target 100 persen kelulusan atau 99 % itu.

Padahal setiap pendidik menyadari proverb John Ruskin yang berbunyi “Membuat anak-anak anda mampu bersikap jujur merupakan awal dari pendidikan” tetapi makna jujur sendiri sering terbentur ke dalam semak kesibukan sehingga seringkali lupa dan semakin takut terhadap goresan duri semak tersebut sehingga tidak berani meraih kembali buah jujur nan berkah tersebut. Itupun lebih memilih buah yang selama ini dianggap telah memberi kenyang kepada diri padahal mentah adanya.

“Apabila Fatimah mencuri, maka aku (Rasulullah) sendiri yang akan menghukumnya!” begitu prinsip Rasulullah terhadap buah hatinya Fatimah Az Zahra. Beliau adalah kekasih Allah, penyayang umat, rahmat sekalian alam. Sehingga sekarang pun nama beliau seringkali digunakan oleh setiap orangtua dan ditemukan setiap pendidik di buku absensi kelas yang rutin mereka baca bahkan saking seringnya melihat, menjadi hapal bukan cuma nama anak tersebut adanya,- hingga corak hitam putih melebihi pandangan orangtua kandung sendiri! Sayang sekali, ranum tidak dijumpai padahal hidup hanya sekali!

Lelah, kadangkala menjadi alasan untuk menyurut langkah menggapai makna. Setiap orang sibuk! Setiap-nya bekerja. Makna untuk memetakan kembali keadaan seperti semula; jujur, berdasarkan ruh pendidikan itu sendiri, dalam tujuan negara yang terpatri-orisinil buatan anak negeri yakni “mencerdaskan kehidupan bangsa”-pun semakin buram samar adanya. Padahal hal itu baru, belum mencapai seabad umurnya dari sebelumnya negeri yang diduduki ini adalah tanah yang “dipinjam” bangsa lain, bahasa halus-nya, dan kita tetap menjadi “inlander” di dunia modern, ucapan untuk anak negeri dahulu-nya.

Globalisasi atau hal-hal yang bersifat popularitas negeri diumbar agar negeri-negeri luar tahu betapa bagusnya keadaan pendidikan di negeri ini, mengatasnamakan gengsi atau strategi lalu beralih memilih jalan “bohong” sebagai satu kesatuan dalam tujuan pencerdasan anak bangsa. Lalu, alangkah cerdasnya pernyataan (strategi) tersebut tatkala mengetahui bahwa satelit sudah beredar banyak di atas kepala. Hingga untuk berak(tifitas) saja bisa disorot dari negeri lain-jauh disana.

Transparansi teknologi informasi pada masa ini merambah bak akar rambat, cepat, sehingga tidak dapat lagi untuk ditutup-tutupi. Persaingan yang semakin lebar pintu masuk dan penilaiannya, juga telah menjadikan setiap generasi dituntut untuk lebih melebar-dalamkan wawasannya sebagai bagian dari anak-bangsa yang resmi dari sisi negeri maupun negara.

Heran, alangkah mudahnya melepas permata dan mengambil seonggok kotoran untuk disimpan hanya karena popularitas di negeri yang kebanyakan memang diisi orang-orang yang masih “muda” dalam berdikari seperti Indonesia kita ini. Negeri yang seluruh negara di dunia tahu betapa plural-nya, betapa vitalnya kedudukan negara ini dari bagian bumi.

Mereka yang merasa lelah-lama berkecimpung boleh jadi sering beranggapan apatis : “ Memang beginilah kita adanya! Mau bagaimana lagi? Semua sudah diatur pusat? Jerat birokrasi terlalu erat membelit sehingga sulit keluar dari permasalahan. Yang antisipasinya sebenarnya sudah ada; dalam didikan orangtua dahulu terhadap anaknya,-seperti halnya mengaji dari anak berumur balita beranjak remaja setiap ba’da magrib atau ba’da Isya.
Separuh anak-anak takut betapa bengisnya guru ngaji dengan lidi rotan ditangan. Meskipun bukan lulusan pesantren, tetapi masih dapat menyisihkan waktu menelaah kitab Qur’an mempelajari makhraj hingga tajwid. Bahkan kadang orangtuanya sendiri menjadi guru ngaji tersebut,- dimana sekarang sudah mulai berangsur hilang cara mengajar yang dianggap ekstrim dan dianggap melanggar HAM tersebut oleh modernisasi yang semakin panas dan juga tidak jelas terlebih mendekati lestari.

Tetapi beruntunglah jua bahwa tidak sedikit dari mereka keluaran mengaji ekstrim tsb. merasakan melekatnya ilmu ortodoks yang kolot dan tradisional itu. Cukup itu saja pengertian ketegasan demi kecerdasan dalam didikan. Jika dirasa ‘sistem pendidikan’ yang termaktub dalam undang-undang jua-pun diciptakan untuk mengatur pendidikan ke arah lebih berkualitas progresif lagi, maka tinggal melanjutkan saja, Saudara!
...


Sumber Asli : Catatan Fadjrie Doel
Posted on : [0] comments Label:

Kisah Guru Bijak & Sebuah Toples

by : Unknown

Pada suatu waktu, terdapat seorang guru yang bijak. Banyak murid yang datang dari tempat jauh, untuk mendengarkan petuah bijaknya. Pada suatu hari, seperti biasa, para murid berkumpul untuk mendengarkan pelajaran dari sang guru.



Banyak murid mulai datang memenuhi ruang pengajaran. Mereka datang dan duduk dengan tenang dan rapi, memandang ke depan, siap untuk mendengar apa yang dikatakan oleh  sang guru.

Akhirnya sang guru pun datang, lalu duduk di depan para murid-muridnya. Sang guru membawa sebuah toples besar, disampingnya terdapat setumpuk batu kehitaman seukuran genggaman tangan. Tanpa bicara sepatah kata pun, Sang guru mengambil batu-batu tersebut satu persatu, lalu memasukkannya hati-hati ke dalam toples kaca. Ketika toples tersebut sudah penuh dengan batu hitam tadi, sang Guru berbalik kepada para murid, lalu bertanya.

"Apakah toplesnya sudah penuh?"
"Ya guru," jawab para murid, "Benar, toples itu sudah penuh".

Tanpa berkata apa-apa, sang guru mulai memasukkan kerikil-kerikil bulat berwarna merah ke dalam toples itu.Kerikil-kerikil itu cukup kecil sehingga jatuh di sela-sela batu hitam besar tadi. Setelah semua kerikil masuk kedalam toples, sang guru berbalik kepada para murid, lalu bertanya.

"Apakah toplesnya sudah penuh?"
"Ya guru," jawab para murid, "Benar, toples itu sudah penuh".

Masih tanpa berkata apa-apa lagi, kini sang guru mengambil satu wadah pasir halus, lalu memasukkannya ke dalam toples. Dengan mudah pasir-pasir tersebut pun masuk memenuhi sela-sela kerikil merah dan batu hitam. Setelah masuk semua, kini sang guru berbalik kepada para murid, lalu bertanya lagi.

"Apakah toplesnya sudah penuh?"

Sekarang para murid tak terlalu percaya diri menjawab pertanyaan gurunya. Namun terlihat bahwa pasir tersebut jelas memenuhi sela-sela kerikil di dalam toples, membuatnya terlihat sudah penuh. Kali ini hanya sedikit yang mengangguk, lalu menjawab,

"Ya guru," jawab beberapa murid, "Benar, toples itu sudah penuh".

Tetap tanpa berkata apa-apa lagi, sang guru berbalik mengambil sebuah tempayan berisi air, lalu menuangkannya dengan ahti-hati ke dalam toples besar tersebut. Ketika air sudah mencapai bibir toples, kini sang guru berbalik kepada para murid, lalu bertanya lagi.
"Apakah toplesnya sudah penuh?"

Kali ini kebanyakan murid memilih diam, namun ada dua hingga tiga yang memberanikan diri menjawab,
"Ya guru," jawab sedikit murid tersebut, "Benar, toples itu sudah penuh".

Tetap tanpa berkata apa-apa lagi, sang guru mengambil satu kantong berisi garam halus. Ditaburkannya sedikit-sedikit dan hati-hati dari atas permukaan air, garam pun larut, lalu ditambahkan lagi sedikit, demikian seterusnya hingga seluruh garam tersebut habis larut dalam air. Kini sang guru menghadap kepada par amurid, dan sekali lagi bertanya, "Apakah toplesnya sudah penuh?"

Kali ini semua murid benar-bnar diam. Hingga akhirnya seorang murid yang berani menjawab, "Ya guru, toples itu sekarang sudah penuh".

Sang guru menjawab, "Ya benar, toples ini sekarang sudah penuh".
Sang guru kemudian melanjutkan perkatannya,

"Sebuah cerita selalu memiliki banyak makna, dan setiap dari kalian telah memahami banyak hal dari demonstrasi ini. Diskusikan dengan tenang sesama kalian, apa hikmah yang kalian punya. Berapa banyak hikmah berbeda yang dapat kalian temukan dan kalian ambil darinya."

Para murd pun memandang sang guru, dan ke arah toples yang kini berisi dengan berbagai warna, ada hitam, ada merah, ada pasir, air, dan garam. Lalu dengan tenang mereka mendiskusikan dengan murid lainnya. Setelah beberapa menit kemudian sang guru mengangkat tangannya, seluruh ruangan pun diam. Sang guru lalu berkata,
"Selalu ingatlah bahwa tak pernah ada hanya satu interpretasi dari segalanya. Kalian telah mengambil semua hikmah dan pesan dari cerita, dan setiap hikmah, sama pentingnya dengan yang lain.

Lalu tanpa berkata-kata lagi, sang guru pun bangkit dan meninggalkan ruangan.

Kisah inspirasi diatas diterjemahkan dari
http://www.rogerdarlington.me.uk/stories.html Kisah Guru Bijak dan Sebuah Toples