Bismillahirrahmaanirrahiim..
Nama adalah do’a, nasehat itu tak asing terdengar di telinga.
terlintas bayang masa lalu, berbagai julukan ataupun panggilan pernah menghinggap pada diri,
“Chondel, Amat, Ahmad, Tokgeng, Tengguang, Cingeng, Tokek, Mat-Codet, Mat song, Mat Aji, Keker (Kecik-Keras), Ade, Ujux”. Sekarang julukan itu tinggallah kenangan, sosok ini telah berubah menjadi Imam bagi keluarga kecil nan sederhana yang baru dibina.
Benarlah adanya, panggilan ataupun julukan-julukan tersebut hanyalah ungkapan emosi (senang, benci, kagum, kasih-sayang, dsb), namun tak dipungkiri, nama tersebut menjadi salah satu faktor perubahan sikap dan gambaran dalam menjalani hidup.
Contoh nyata efek dari sapaan, julukan atau panggilan tersebut :
“AMAT artinya MATI, maka saat menyandang nama tersebut, hati terasa mati, gelap akan kebenaran, membabi buta dalam kekalutan dan menikmati kelalaian, sehingga 2007 berganti menjadi FAHMI yang artinya FAHAM, mengerti dan cerdas.
Dan kebenaranpun terbukti ditandai dengan hijrahnya sosok
de’ anarchis to de’ Arquitectura
Dahulu sapaan ADE’ sangat disenangi, gambaran kasih-sayang dan perhatian dari sosok kakak. Namun, bergulirnya waktu, sapaan itu terasa meremehkan dan membuat semakin jauh dari kedewasaan.
Dahulu sapaan ABANG kurang dinikmati, terkesan sombong dan egois. Namun saat ini, sapaan itu menjadi motivasi untuk lebih baik, menjadi teladan bagi mereka yang merindukan perubahan.
Itulah Nama, walaupun hanya sekedar sapaan dan ucapan lisan, tapi nanti kita akan dibangkitkan sesuai dengan Nama itu sendiri (Inspirasi Sabda Rasul)
“….sapalah saudaramu dengan panggilan yang ia sukai…
…kita tak pernah tau, sapaan yang mana yang membuatnya sakit dan teraniaya.
Namun kita ketahui, do’a orang yang teraniaya tak berHijab dengan-Nya…”
Mari berbenah dengan tidak menyepelekan hal yang kecil dan Tidak merumitkan Hal Besar.
Easy going, but keep ISTIQOMAH
(Sang Insan Perubahan)

regenerasi


