Latest News


More

RANUM & KARBITAN

Posted by : Unknown on : Rabu, 23 Januari 2013 0 comments
Unknown
Saved under :

Siapa yang tidak kenal Albert Einstein, lebih umum dikenal sebagai fisikawan, penemu (bom) atom. Bom yang dunia tahu, dipergunakan Amerika pada perang dunia ke-2 menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki, dua kota di Jepang. Bahkan, rekan-rekan yang berkecimpung di dalam dunia jurnalistik yang menjadikan jurnalisme sebagai media informatif bagi masyarakat Indonesia yang pluralis ,-

tentu pula mengenal Majalah The New Yorker bahkan pernah hanya menerbitkan laporan John Hersey, mempublikasikan karyanya setahun setelah bom nuklir dijatuhkan berjudul “Hiroshima” dalam satu edisi majalah. Hersey menceritakan dahsyatnya bom itu. Ada kulit terkelupas, ada desas-desus soal bom rahasia, ada kematian yang menyeramkan, ada perasaan dendam, ada perasaan rendah diri. Semua campur aduk ketika Hersey merekamnya dan menjadikannya salah satu artikel termahsyur dalam sejarah jurnalisme Amerika. Konon fisikawan nuklir Albert Eistein tidak bisa mendapatkan edisi The New Yorker pada Agustus 1946 tersebut. Einstein membaca laporan itu karena ia berlangganan. Tapi Eistein ingin membeli enam buah lagi buat teman-temannya. Tapi majalah itu laku habis. Einstein kehabisan. Sederhana saja. Einstein menemukan teori baru. Hersey juga menemukan sesuatu yang baru. Hersey menemukan sisi bengis dari bom nuklir! (Andreas Harsono, pengantar diskusi jurnalisme sastrawi, September 2000)
Perbandingan yang relefan berdasarkan realita. Bukan pragmatis, “Kita mana tahu nasib seseorang” disebabkan kehamilan ketika sang anak sedang berstatus pelajar SMA. Dirasa sebagai penajam analisa perbandingan ada baiknya menggunakan konteks sama,-entahkah antara minyak sayur dengan minyak kelapa ataukah kejadian serupa, agar tidak mengalor-ngidul permasalahan sehingga menimbulkan lelah dan samar-samar persoalan yang ujung-ujungnya timbul kesimpulan yang menjadi solusi, “Sudahlah, pekerjaan lain masih banyak” dan membiarkan persoalan yang kerap terjadi seperti ini mengambang- berjalan lancar bersolek menjadi noktah anomali yang mulai lazim.

Memang kadangkala ketakutan timbul dari dalam jiwa pendidik yang seringkali muncul lebih banyak frekuensinya dalam keseharian teknis dia beraktifitas. Disinilah letak kekalahan disebabkan awal yang keliru, awal yang semakin tidak jelas juntrungnya akan seperti apa. Setiap menghadapi Ujian Nasional, maka setiap kali pula harus berjibaku dengan tugas dobel merangkap siswa, takut-takut tidak mencapai target 100 persen kelulusan atau 99 % itu.

Padahal setiap pendidik menyadari proverb John Ruskin yang berbunyi “Membuat anak-anak anda mampu bersikap jujur merupakan awal dari pendidikan” tetapi makna jujur sendiri sering terbentur ke dalam semak kesibukan sehingga seringkali lupa dan semakin takut terhadap goresan duri semak tersebut sehingga tidak berani meraih kembali buah jujur nan berkah tersebut. Itupun lebih memilih buah yang selama ini dianggap telah memberi kenyang kepada diri padahal mentah adanya.

“Apabila Fatimah mencuri, maka aku (Rasulullah) sendiri yang akan menghukumnya!” begitu prinsip Rasulullah terhadap buah hatinya Fatimah Az Zahra. Beliau adalah kekasih Allah, penyayang umat, rahmat sekalian alam. Sehingga sekarang pun nama beliau seringkali digunakan oleh setiap orangtua dan ditemukan setiap pendidik di buku absensi kelas yang rutin mereka baca bahkan saking seringnya melihat, menjadi hapal bukan cuma nama anak tersebut adanya,- hingga corak hitam putih melebihi pandangan orangtua kandung sendiri! Sayang sekali, ranum tidak dijumpai padahal hidup hanya sekali!

Lelah, kadangkala menjadi alasan untuk menyurut langkah menggapai makna. Setiap orang sibuk! Setiap-nya bekerja. Makna untuk memetakan kembali keadaan seperti semula; jujur, berdasarkan ruh pendidikan itu sendiri, dalam tujuan negara yang terpatri-orisinil buatan anak negeri yakni “mencerdaskan kehidupan bangsa”-pun semakin buram samar adanya. Padahal hal itu baru, belum mencapai seabad umurnya dari sebelumnya negeri yang diduduki ini adalah tanah yang “dipinjam” bangsa lain, bahasa halus-nya, dan kita tetap menjadi “inlander” di dunia modern, ucapan untuk anak negeri dahulu-nya.

Globalisasi atau hal-hal yang bersifat popularitas negeri diumbar agar negeri-negeri luar tahu betapa bagusnya keadaan pendidikan di negeri ini, mengatasnamakan gengsi atau strategi lalu beralih memilih jalan “bohong” sebagai satu kesatuan dalam tujuan pencerdasan anak bangsa. Lalu, alangkah cerdasnya pernyataan (strategi) tersebut tatkala mengetahui bahwa satelit sudah beredar banyak di atas kepala. Hingga untuk berak(tifitas) saja bisa disorot dari negeri lain-jauh disana.

Transparansi teknologi informasi pada masa ini merambah bak akar rambat, cepat, sehingga tidak dapat lagi untuk ditutup-tutupi. Persaingan yang semakin lebar pintu masuk dan penilaiannya, juga telah menjadikan setiap generasi dituntut untuk lebih melebar-dalamkan wawasannya sebagai bagian dari anak-bangsa yang resmi dari sisi negeri maupun negara.

Heran, alangkah mudahnya melepas permata dan mengambil seonggok kotoran untuk disimpan hanya karena popularitas di negeri yang kebanyakan memang diisi orang-orang yang masih “muda” dalam berdikari seperti Indonesia kita ini. Negeri yang seluruh negara di dunia tahu betapa plural-nya, betapa vitalnya kedudukan negara ini dari bagian bumi.

Mereka yang merasa lelah-lama berkecimpung boleh jadi sering beranggapan apatis : “ Memang beginilah kita adanya! Mau bagaimana lagi? Semua sudah diatur pusat? Jerat birokrasi terlalu erat membelit sehingga sulit keluar dari permasalahan. Yang antisipasinya sebenarnya sudah ada; dalam didikan orangtua dahulu terhadap anaknya,-seperti halnya mengaji dari anak berumur balita beranjak remaja setiap ba’da magrib atau ba’da Isya.
Separuh anak-anak takut betapa bengisnya guru ngaji dengan lidi rotan ditangan. Meskipun bukan lulusan pesantren, tetapi masih dapat menyisihkan waktu menelaah kitab Qur’an mempelajari makhraj hingga tajwid. Bahkan kadang orangtuanya sendiri menjadi guru ngaji tersebut,- dimana sekarang sudah mulai berangsur hilang cara mengajar yang dianggap ekstrim dan dianggap melanggar HAM tersebut oleh modernisasi yang semakin panas dan juga tidak jelas terlebih mendekati lestari.

Tetapi beruntunglah jua bahwa tidak sedikit dari mereka keluaran mengaji ekstrim tsb. merasakan melekatnya ilmu ortodoks yang kolot dan tradisional itu. Cukup itu saja pengertian ketegasan demi kecerdasan dalam didikan. Jika dirasa ‘sistem pendidikan’ yang termaktub dalam undang-undang jua-pun diciptakan untuk mengatur pendidikan ke arah lebih berkualitas progresif lagi, maka tinggal melanjutkan saja, Saudara!
...


Sumber Asli : Catatan Fadjrie Doel